Berhari-hari kami berkutat dengan kertas dan pena. Menulis kembali hal yang telah kami lakukan kemarin. Kembali membuat sebuah rekonstruksi atas apa yang telah kami lakukan. mencari celah kesalahan yang kami perbuat sehingga menyebabkan benih kami mati. Pada akhirnya kami membuat sebuah kesimpulan. Ikan yang kami tebar terlalu kecil sehingga tidak memungkinkan untuk beradaptasi dengan lingkungan alam dingin di Panti.
Selanjutnya penghitungan untuk penebaran kali kedua dimulai lagi. Kondisi kolam juga kami perbaiki. Lengkap dengan aerasinya. Kali ini kami hendak membeli bibit yang berukuran lebih besar lagi. Benih gurame yang berumur 1 bulan dengan ukuran sebesar kuku kelingking (atau biasa disebut ukuran senti-an). Penghitungan selesai, saatnya mencari bibit yang sesuai.
Di daerah rowotamtu kami menemui sepasang kakek nenek yang tinggal di daerah pinggir sungai. Mereka hanya tinggal berdua saja. Di halaman rumahnya terdapat tiga buah kolam yang terbuat dari semen (kolam beton), di samping rumah ada pompa air tradisional yang dibawahnya dijadikan tempat untuk menyimpan cacing sutra. Makanan ikan gurami dari umur 1 minggu hingga 1,5 bulan. Sebuah kebetulan bagi kami. Langsung saja kami tanyakan jumlah benih, ukuran, dan harga bibit gurame yang mereka miliki. Sayangnya, jumlah tersebut jauh dari harapan kami, hanya 1000 ekor saja. Kalau ukuran dan harga sih sudah cocok. Setelah berbincang dengan sahabat sekaligus partner saya, akhirnya benih itu kami bawa juga. Cacing sutra juga tidak lupa kami sertakan untuk persiapan pakan selama 4 hari.
Berbekal satu jurigen air dan satu lagi pinjam dari kakek nenek yang menjual benih itu, kami membawa ikan gurame ke daerah Panti. Riang sekali. Kesempatan ini tidak akan kami sia-siakan. Kami akan berupaya agar ikan ini dapat tumbuh sampai 8 bulan ke depan.
Sore hari sekitar pukul 4, kami sampai di Panti. Langsung saja kami celupkan jurigen air yang berisi ikan tersebut ke dalam kolam. Tidak terlalu lama, ikan-ikan mungil nan cantik itu keluar dari plastik putih tempat mereka di aduk-aduk karena jalan yang kurang rata. Pada jurigen kedua, hati kami berdegup. Ikan-ikan itu tidak langsung keluar. Perasaan kami was-was. Jangan-jangan yang satu jurigen ini tidak selamat sewaktu di perjalanan. Tapi, gejolak hati kami berangsur sirna. Ikan-ikan itu selamat.
Hari itu telah berselang dengan kegembiraan. Masih ada hari esok untuk kembali menuliskan lagi kisah yang lain.