Semenjak saya berhenti dari pekerjaan saya
sebagai buruh di salah satu lembaga keuangan yang didanai oleh pengusaha asal
singapura, saya mulai mencari-cari sumber air baru supaya tetap bertahan.
Setiap harinya, pergi ke warung kopi adalah ppilihan untuk mencari berbagai
informasi yang nantinya saya butuhkan. Adalah sahabat saya waktu ngopi yang
awalnya memberikan ide cemerlang tersebut. "beternak gurame".
Saya mulai serius mendengarkan penjelasan yang
diberikan oleh sahabat saya. Mulai dari dana awal hingga kemungkinan keuntungan
yang bisa didapatkan dari aktifitas tersebut. Semenjak itu waktu kami sering
dihabiskan bersama untuk mendiskusikan aktifitas tersebut. Saat itu saya hanya
manggut-manggut saja, karena saya sudah percaya dengan ilmu yang telah ia
dapatkan di Fakultas Perikanan Unibraw. Kami memulai dengan menghitung modal
awal yang kami butuhkan. Setelah selesai, kami juga menggambar denah kolam yang
akan kami buat nantinya. Penuh semangat.
Penghitungan modal dan denah kolam telah selesai,
saatnya mengumpulkan modal. Sedikit tabungan yang saya miliki akhirnya
dialokasikan untuk modal tersebut. Sahabat saya pun mengumpulkan tabungannya
untuk dijadikan modal.
Dana telah terkumpul, waktunya pengaplikasian.
Sebagai anak yang tinggal di daerah perkotaan
dengan sedikit sekali lahan, kami mulai mencari-cari tempat untuk dijadikan
lokasi kolam kami. Secara kebetulan, seorang sahabat yang bertempat tinggal di
daerah panti memberikan tempat kepada kami utnuk membuat kolam di pekarangan
rumahnya. Wal hasil lokasi kolam telah kami tentukan.
Hal pertama yang kami lakukan adalah membeli
beberapa lonjor bambu. Terdiri dari 5 lonjor bambu petung, dan 10 lonjor bambu
keles (itu sebutan di daerah saya). Selain itu kami juga membutuhkan paku reng
sebanyak 1 kilogram. Kami juga membeli kawat 1 kilogram. Kemudian pipa paralon
ukuran ½ dim (sudah lupa berapa lonjor).
Bambu petung kami jadikan pasak sehingga menancap
kuat di tanah. Bambu keles dipaku menyilang dengan pasaknya sehingga terbentuk
sebuah kotak (waktu itu lebih mirip kandang kambing). Selesai dengan bambu,
kami mulai membuat saluran air dan saluran pembuangan. Dalam waktu tidak sampai
seminggu sudah tiba waktunya untuk menutup kotak tersebut dengan terpal. Ukuran
terpal yang dibeli 5 x 7 meter cukup untuk membentuk sebuah kolam berukuran 3 x
5 meter.
Ketika kolam sudah dilapisi terpal, rasa bahagia
muncul. Rasa-rasanya tak sabar untuk menebar benih ikan gurame. Menjelang maghrib,
kolam terpal yang sudah jadi tersebut kemudian kami isi dengan air yang
mengalir dari pegunungan. Butuh waktu semalam agar volume air tersebut sesuai
dengan yang kami harapkan, mencapai ketinggian 60cm.
Saatnya memulai untuk prakondisi kolam.
Air yang telah tertampung di kolam kami biarkan
selama beberapa hari (dibiarkan begitu saja, tanpa pemberian aplikasi plankton
atau semacamnya). Waktu sudah berjalan seminggu, kolam harus segera di isi. Itu
ambisi kami. Seorang sahabat lain tertarik untuk sekedar melihat perkembangan
aktifitas kami, kemudian dia merelakan waktunya untuk menemani saya ke
Umbulsari membeli benih ikan Gurame. Tidak terlalu banyak, 2000 ekor berukuran
sebesar gabah. Tepat maghrib ikan tersebut diadaptasikan dengan lingkungan
kolam yang baru (ikan yang masih di dalam plastik diletakkan di kolam). Kemudian
kami biarkan dan kami tinggal berbincang-bincang sejenak di ruang tamu sembari
menyeruput kopi hangat yang dibuatkan oleh tuan rumah. Setelah setengah jam, kami
kembali ke kolam. Kami dapati ikan yang berada di plastik telah menjadi butir
pasir yang mengendap di dasar. Hanya sekitar 40 ekor saja yang masih berenang
sehat.
1960 ekor ikan yang kami beli sore tadi sekarang
menjadi bangkai ikan. Wajah muram tampak pada wajah saya dan sahabat saya. Pengalaman
pertama yang langsung memukul telak.
Keesokan harinya kami melakukan evaluasi terhadap
kemungkinan-kemungkinan yang menyebabkan ikan-ikan itu mati. Oh, mungkin
terlalu dingin. Ucap sahabat saya. Selain itu oksigen juga kurang. Tambahnya lagi.
Faktor lain mungkin juga karena ikannya terlalu kecil. Semua kemungkinan kami
catat.
Saatnya untuk merencanakan penebaran benih yang
kedua...
Kesimpulan kita :
BalasHapus-jangan sekali-kali membiarkan benih (terutama ikan gurami ukuran kecil) diaklimatisasi/diadaptasi terlalu lama di kolam, apalagi wadah plastik terbuka/tanpa oksigen tambahan.
-jangan membeli benih ikan gurami di lokasi yang memiliki suhu yang berbeda signifikan dengan suhu di kolam kita. misal: beli benih di kawasan dataran rendah (suhu tinggi) sangat beresiko jika ditebar di kolam dataran tinggi (suhu rendah), terutama ikan gurami yang kurang tahan di suhu rendah.
@forsepmaliki : yups. sudah dapat satu ilmu baru di bidang perikanan. tinggal mengaplikasikannya lagi untuk yang kedua.
BalasHapus