Senin, 13 Agustus 2012

Penebaran Benih Kedua

Berhari-hari kami berkutat dengan kertas dan pena. Menulis kembali hal yang telah kami lakukan kemarin. Kembali membuat sebuah rekonstruksi atas apa yang telah kami lakukan. mencari celah kesalahan yang kami perbuat sehingga menyebabkan benih kami mati. Pada akhirnya kami membuat sebuah kesimpulan. Ikan yang kami tebar terlalu kecil sehingga tidak memungkinkan untuk beradaptasi dengan lingkungan alam dingin di Panti.
Selanjutnya penghitungan untuk penebaran kali kedua dimulai lagi. Kondisi kolam juga kami perbaiki. Lengkap dengan aerasinya. Kali ini kami hendak membeli bibit yang berukuran lebih besar lagi. Benih gurame yang berumur 1 bulan dengan ukuran sebesar kuku kelingking (atau biasa disebut ukuran senti-an). Penghitungan selesai, saatnya mencari bibit yang sesuai.
Di daerah rowotamtu kami menemui sepasang kakek nenek yang tinggal di daerah pinggir sungai. Mereka hanya tinggal berdua saja. Di halaman rumahnya terdapat tiga buah kolam yang terbuat dari semen (kolam beton), di samping rumah ada pompa air tradisional yang dibawahnya dijadikan tempat untuk menyimpan cacing sutra. Makanan ikan gurami dari umur 1 minggu hingga 1,5 bulan. Sebuah kebetulan bagi kami. Langsung saja kami tanyakan jumlah benih, ukuran, dan harga bibit gurame yang mereka miliki. Sayangnya, jumlah tersebut jauh dari harapan kami, hanya 1000 ekor saja. Kalau ukuran dan harga sih sudah cocok. Setelah berbincang dengan sahabat sekaligus partner saya, akhirnya benih itu kami bawa juga. Cacing sutra juga tidak lupa kami sertakan untuk persiapan pakan selama 4 hari.
Berbekal satu jurigen air dan satu lagi pinjam dari kakek nenek yang menjual benih itu, kami membawa ikan gurame ke daerah Panti. Riang sekali. Kesempatan ini tidak akan kami sia-siakan. Kami akan berupaya agar ikan ini dapat tumbuh sampai 8 bulan ke depan.
Sore hari sekitar pukul 4, kami sampai di Panti. Langsung saja kami celupkan jurigen air yang berisi ikan tersebut ke dalam kolam. Tidak terlalu lama, ikan-ikan mungil nan cantik itu keluar dari plastik putih tempat mereka di aduk-aduk karena jalan yang kurang rata. Pada jurigen kedua, hati kami berdegup. Ikan-ikan itu tidak langsung keluar. Perasaan kami was-was. Jangan-jangan yang satu jurigen ini tidak selamat sewaktu di perjalanan. Tapi, gejolak hati kami berangsur sirna. Ikan-ikan itu selamat.
Hari itu telah berselang dengan kegembiraan. Masih ada hari esok untuk kembali menuliskan lagi kisah yang lain.

Minggu, 12 Agustus 2012

Pertama Kali

Semenjak saya berhenti dari pekerjaan saya sebagai buruh di salah satu lembaga keuangan yang didanai oleh pengusaha asal singapura, saya mulai mencari-cari sumber air baru supaya tetap bertahan. Setiap harinya, pergi ke warung kopi adalah ppilihan untuk mencari berbagai informasi yang nantinya saya butuhkan. Adalah sahabat saya waktu ngopi yang awalnya memberikan ide cemerlang tersebut. "beternak gurame".
Saya mulai serius mendengarkan penjelasan yang diberikan oleh sahabat saya. Mulai dari dana awal hingga kemungkinan keuntungan yang bisa didapatkan dari aktifitas tersebut. Semenjak itu waktu kami sering dihabiskan bersama untuk mendiskusikan aktifitas tersebut. Saat itu saya hanya manggut-manggut saja, karena saya sudah percaya dengan ilmu yang telah ia dapatkan di Fakultas Perikanan Unibraw. Kami memulai dengan menghitung modal awal yang kami butuhkan. Setelah selesai, kami juga menggambar denah kolam yang akan kami buat nantinya. Penuh semangat.
Penghitungan modal dan denah kolam telah selesai, saatnya mengumpulkan modal. Sedikit tabungan yang saya miliki akhirnya dialokasikan untuk modal tersebut. Sahabat saya pun mengumpulkan tabungannya untuk dijadikan modal. 
Dana telah terkumpul, waktunya pengaplikasian.
Sebagai anak yang tinggal di daerah perkotaan dengan sedikit sekali lahan, kami mulai mencari-cari tempat untuk dijadikan lokasi kolam kami. Secara kebetulan, seorang sahabat yang bertempat tinggal di daerah panti memberikan tempat kepada kami utnuk membuat kolam di pekarangan rumahnya. Wal hasil lokasi kolam telah kami tentukan.
Hal pertama yang kami lakukan adalah membeli beberapa lonjor bambu. Terdiri dari 5 lonjor bambu petung, dan 10 lonjor bambu keles (itu sebutan di daerah saya). Selain itu kami juga membutuhkan paku reng sebanyak 1 kilogram. Kami juga membeli kawat 1 kilogram. Kemudian pipa paralon ukuran ½ dim (sudah lupa berapa lonjor).
Bambu petung kami jadikan pasak sehingga menancap kuat di tanah. Bambu keles dipaku menyilang dengan pasaknya sehingga terbentuk sebuah kotak (waktu itu lebih mirip kandang kambing). Selesai dengan bambu, kami mulai membuat saluran air dan saluran pembuangan. Dalam waktu tidak sampai seminggu sudah tiba waktunya untuk menutup kotak tersebut dengan terpal. Ukuran terpal yang dibeli 5 x 7 meter cukup untuk membentuk sebuah kolam berukuran 3 x 5 meter.
Ketika kolam sudah dilapisi terpal, rasa bahagia muncul. Rasa-rasanya tak sabar untuk menebar benih ikan gurame. Menjelang maghrib, kolam terpal yang sudah jadi tersebut kemudian kami isi dengan air yang mengalir dari pegunungan. Butuh waktu semalam agar volume air tersebut sesuai dengan yang kami harapkan, mencapai ketinggian 60cm.
Saatnya memulai untuk prakondisi kolam.
Air yang telah tertampung di kolam kami biarkan selama beberapa hari (dibiarkan begitu saja, tanpa pemberian aplikasi plankton atau semacamnya). Waktu sudah berjalan seminggu, kolam harus segera di isi. Itu ambisi kami. Seorang sahabat lain tertarik untuk sekedar melihat perkembangan aktifitas kami, kemudian dia merelakan waktunya untuk menemani saya ke Umbulsari membeli benih ikan Gurame. Tidak terlalu banyak, 2000 ekor berukuran sebesar gabah. Tepat maghrib ikan tersebut diadaptasikan dengan lingkungan kolam yang baru (ikan yang masih di dalam plastik diletakkan di kolam). Kemudian kami biarkan dan kami tinggal berbincang-bincang sejenak di ruang tamu sembari menyeruput kopi hangat yang dibuatkan oleh tuan rumah. Setelah setengah jam, kami kembali ke kolam. Kami dapati ikan yang berada di plastik telah menjadi butir pasir yang mengendap di dasar. Hanya sekitar 40 ekor saja yang masih berenang sehat.
1960 ekor ikan yang kami beli sore tadi sekarang menjadi bangkai ikan. Wajah muram tampak pada wajah saya dan sahabat saya. Pengalaman pertama yang langsung memukul telak.
Keesokan harinya kami melakukan evaluasi terhadap kemungkinan-kemungkinan yang menyebabkan ikan-ikan itu mati. Oh, mungkin terlalu dingin. Ucap sahabat saya. Selain itu oksigen juga kurang. Tambahnya lagi. Faktor lain mungkin juga karena ikannya terlalu kecil. Semua kemungkinan kami catat.
Saatnya untuk merencanakan penebaran benih yang kedua...